Perkembangan dan Peradaban Turki Utsmani
I. Pendahuluan
Dinasti Turki Utsmani merupakan kekhalifahan yang cukup besar dalam Islam dan memiliki pengaruh cukup signifikan dalam perkembangan wilayah Islam di Asia, Afrika, dan Eropa. Bangsa Turki memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan peradaban Islam. Peran yang paling menonjol terlihat dalam birokrasi pemerintahan yang bekerja untuk para khalifah Bani Abbasiyah. Kemudian mereka sendiri membangun kekuasaan yang sekalipun independen, tetapi masih tetap mengaku loyal kepada khalifah Bani Abbasiyah. Hal tersebut ditunjukkan dengan munculnya Bani Saljuk (1038-1194 M).
Independensi dari khalifah Abbasiyah mulai ditunjukkan secara lebih jelas oleh Dinasti Danisymandiyah (1671-1177 M) dan Qaramaniyah (1256-1483 M). Setelah hancurnya Baghdad di tangan Bangsa Mongol, orang-orang Turki semakin mempertegas kemandirian mereka dalam membangun kekuasaannya sendiri, seperti yang dilakukan oleh Turki Utsmani (1281-1924 M). Bahkan pengaruh Dinasti tersebut menjangkau wilayah yang sangat luas termasuk Eropa Timur, Asia Kecil, Asia Tengah, Timur Tengah, Mesir, dan Afrika Utara.
II. Pembahasan
a) Bagaimanakah perluasan wilayah dalam menuju perkembangan dan peradaban Dinasti Utsmani?
Setelah Utsman mengumumkan dirinya sebagai Padisyah al-Ustman (Raja Besar Keluarga Utsman), pada tahun 699 H (1300 M), dia mulai memperluas wilayahnya. Perluasan wilayah (ekspansi) para sultan Utsmani menjadi model. Hal itu berlangsung paling tidak sampai dengan masa pemerintahan Sulaiman I. Untuk mendukung hal itu, Orkhan membentuk pasukan tangguh/pasukan baru yang dikenal dengan Inkisyariyah (Janissary). Pasukan Inkisyariyah adalah tentara utama Dinasti Utsmani yang terdiri dari bangsa Georgia dan Armenia yang baru masuk Islam. Ternyata, dengan pasukan tersebut seolah-olah Dinasti Utsmani memiliki mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan yang besar sekali bagi penaklukkan negeri-negeri non-muslim. Oleh karena itu, pada masa Orkhan dapat ditaklukkan Broessa (Turki), Izmir (Asia Kecil), dan Ankara.
Ekspansi yang lebih besar terjadi pada masa Murad I. Di masa ini berhasil ditaklukkan Balkan, Andrianopel (sekarang bernama Edirne, Turki), Macedonia, Sofia (Bulgaria), dan seluruh Wilayah Yunani. Melihat kemenangan yang diraih Murad I, kerajaan-kerajaan Kristen di Balkan dan Eropa Timur menjadi murka. Mereka lalu menyusun kekuatan yang terdiri atas Hongaria, Bulgaria, Serbia, Transsylvania, dan Walacia (Rumania), untuk menggembur Dinasti Utsmani. Meskipun Murad I tewas dalam pertempuran, kemenangan tetap di pihak Dinasti Utsmani. Ekspansi berikutnya dilanjutkan oleh puteranya, Bayazid I. Pada tahun 1391, pasukan Bayazid I dapat merebut benteng Philadelphia dan Gramania atau Kirman (Iran). Dengan demikian, Dinasti Utsmani secara bertahap tumbuh menjadi kerajaan besar.
Kesuksesan Bayazid I kembali menimbulkan kegelisahan di daratan Eropa yang mengakibatkan Paus menyerukan umat Kristen Eropa supaya mengangkat senjata. Dengan dipimpin oleh raja Hongaria Sijismond, mereka bergabung dengan tentara Perancis dan Jerman. Pada saat itu terjadi pertempuran di Nicopolis (25 September1396). Dinasti Utsmani berhasil memenangkan pertempuran tersebut, sedangkan Eropa menerima kekalahan yang terparah.
b) Motivasi apa saja yang diinginkan Dinasti Utsmani dalam penaklukan Konstantinopel?
Motivasi Dinasti Utsmani dalam menaklukkan Konstantinopel itu ada tiga (3) hal, yaitu:
Karena dorongan iman kepada Tuhan dengan disemangati oleh Hadits Nabi Muhammad SAW, bahwa nantinya umat Islam akan dapat menaklukkannya.
Karena Constantinopel sebagai pusat peradaban dan kebudayaan.
Keindahan negeri itu dan letaknya yang sangat setrategis, sebagai penghubung antara dua benua besar, yaitu Eropa dan Asia.
c) Faktor-faktor apa saja dalam perkembangan dan Peradaban Dinasti Utsmani?
Ada lima (5) faktor yang menyebabkan kesuksesan Dinasti Utsmani dalam perluasan wilayah (perkembangan dan peradabannya) Islam.
Kemampuan orang-orang Turki dalam setrategi perang terkombinasi dengan cita-cita memperoleh ghanimah (harta rampasan perang).
Sifat dan karakter orang Turki yang selalu ingin maju dan tidak pernah diam serta gaya hidupnya yang sederhana, sehingga memudahkan untuk tujuan penyerangan.
Semngat jihad dan ingin mengembangkan Islam.
Letak Istambul yang sangat setrategis sebagai ibu kota kerajaan juga sangat menunjang kesuksesan perluasan wilayah ke Eropa dan Asia. Istanbul terletak di antara dua benua dan dua laut, dan pernah menjadi pusat kebudayaan dunia, baik kebudayaan Macedonia, kebudayaan Yunani maupun kebudayaan Romawi Timur.
Kondisi kerajaan-kerajaan di sekitarnya yang kacau memudahkan Dinasti Utsmani mengalahkannya.
d) Sistem pemerintahan dan setruktur masyarakat Dinasti Utsmani.
Raja-raja Dinasti Utsmani bergelar Sultan dan Khalifah sekaligus. Sultan menguasai kekuasaan duniawi dan Khalifah berkuasa di bidang agama/spiritual/ukhrawi. Mereka mendapatkan kekuasaan secara turun-temurun, akan tetapi ridak harus putra pertama yang berhak menjadi penggantinya. Ada kalanya putra kedua atau putra ketiga dan selanjutnya yang menggantikan sultan, bahkan pada perkembangan selanjutnya pergantian kekuasaan itu juga diserahkan kepada saudara sultan, bukan kepada anaknya.
Di dalam menjalankan roda pemerintahannya, Sulitan/Khalifah dibantu oleh seorang Muftti atau yang lebi dikenal Syaikhul-Islam dan Shadrul-‘Adham. Kalau Syaikhul-Islam mewakili Sultan/Khalifah dalam melaksanakan wewenang agamanya, maka Shadrul-‘Adham (Perdan Menteri) mewakili Kepala Negara dalam melaksanakan wewenang dunianya.
Sebagaiman diketahui, para Sultan Dinasti Utsmani dalam menjalankan pemerintahannya mengandalkan pasukan Jannisari. Pasukan Jannisari dilengkapi dengan pasukan kavelari propinsial. Sebagian dari prajurit kavaleri Ustmani adalah kalangan budak. Mereka direkrut dari penduduk Turki non budak yang didanai oleh timars sejenis, dengan iqtha’ di Timur Tengah – pemberian pendapatan pajak sebagai imbalan bagi tugas kemiliteran. Pada tahun 1527 terdapat sekitar 28.000 infentari budak dan sekitar 70.000 sampai 80.000 kavaleri yang 37.500 dari mereka sebagai pemegang hak timar. Selain pasukan militer yang telah disebutkan di muka, juga terdapat beberapa prajurit dan penyerbu di wilayah pertahanan yang digaji dengan pembebasan pajak.
e) Bagaimakah perkembangan dan perdabannya, serta apa hasil dari perkembangan serta peradaban Dinasti Utsmani?
Perkembangan dan peradaban Islam pada masa Dinasti Utsmani di Turki sebagai berikut:
Bidang Pemerintahan dan Militer
Para pemimpin Kerajaan Utsmani pada masa-masa pertama adalah orang-orang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Meskipun demikian, kemajuan kerajaan Utsmani sehingga mencapai masa keemasannya itu, bukan semata-mata karena keunggulan politik para pemimpinnya. Masih banyak faktor lain yang mendukung keberhasilan ekspansi itu. Yang terpenting di antaranya adalah keberanian, keterampilan, ketangguhan dan kekuataan militernya yang sanggup bertempur kapan saja.
Kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan teratur ketika terjadi kontak senjata dengan Eropa. Pengorganisasian yang baik dan setrategi tempur militer Utsmani berlangsung dengan baik. Pembaruan dalam tubuh organisai militer oleh Orkhan sangat berarti bagi pembaruan militer Turki. Bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit.
Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Yenisseri atau Inkisyariah. Pasukan inilah yang dapat mengubah Kerajaan Utsmani menjadi mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukkan negeri-negeri nonmuslim di timur yang berhasil dengan sukses.
Bidang Ilmu Pengetahuan
Peradaban Turki Utsmani merupakan perpaduan bermacam-macam peradaban, di antaranya adalah peradaban Persia, Bizantium, dan Arab. Dari peradaban Persia, mereka banyak mengambil ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak mereka serap dari Bizantium. Sedangkan ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial, kemsyarakatan, dan keilmuan mereka terima dari orang-orang Turki Ustmaniyang dikenal sebagai bangsa yang senang dan mudah berasimilasi dengan bangsa asing dan terbuka untuk menerima kebudayaan dari luar.
Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Utsmani lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan mereka tampak tidak begitu menonjol. Karena itulah dalam khazanah intelektual Islam kita tidak menemukan ilmuan terkemuka dari Turki Utsmani.
Bidang Kebudayaan
Dinasti Utsmani di Turki, telah membawa peradaban Islam menjadi peradaban yang cukup maju pada zaman kemajuannya. Dalam bidang kebudayaan Turki Utsmani banyak muncul tokoh-tokoh penting seperti yang terlihat pada abad ke-16, 17, dan 18.
Antara lain abad ke-17, muncul penyair yang terkenal yaitu Nafi’ (1582-1636 M). Nafi’ bekerja untuk Murad Pasya dengan menghasilkan karya-karya sastra Kaside yang mendapat tempat di hati para Sultan.
Diantara penulis yang membawa pengaruh Persia ke dalam istana Utsmani adalah Yusuf Nabi (1642-1712 M), ia muncul sebagai juru tulis bagi Musahif Mustafa, salah seorang Menteri Persia dan ilmuan agama. Yusuf Nabi menunjukkan pengetahuannya yang luar biasa dalam puisinya. Menyentuh hampir semua persoalan – agama, filsafat, roman, cinta, anggur dan mistisisme – ia juga membahas biografi, sejarah, bentuk prosa, geografi, dan rekaman perjalanan.
Dalam bidang sastra prosa Kerajaan Utsmani melahirkan dua tokoh terkemuka, yaitu Katip Celebi dan Evliya Celebi. Yang terbesar dari semua penulis adalah Mustafa bin Abdullah, yang dikenal dengan Katip Celebi atau Haji Halife (1609-1657 M). Ia menulis buku bergambar dalam karya terbesarnya Kasyf Az-Zunun fi Asmai Al-Kutub wa Al-Funun, sebuah presentasi biografi penulis-penulis penting di dunia timur bersama daftar dan deskripsi lebih dari 1.500 buku berbahasa Turki, Persia, dan Arab, ia pun menulis buku-buku yang lain.
Bidang Keagamaan
Dalam tradisi masyarakat Turki, agama merupakan sebuah faktor penting dalam sebuah transformasi sosial dan politik seluruh masyarakat. Masyarakat digolongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sediri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama’ menjadi hukum yang berlaku. Ulama’ memiliki peranan penting dalam kerajaan dan masyarakat. Mufti sebagai pejabat urusan agama tertinggi berwenang memberi fatwa resmi terhadap problema keagamaan yang dihadapi masyarakat. Tanpa legitimasi Mufti, keputusan hukum kerajaan bisa tidak berjalan.
Kehidupan keagamaan pada masyarakat Turki Utsmani mengalami kemajuan, termasuk dalam hal ini adalah kehidupan tarekat. Tarekat yang beerkembang adalah tarekat Bektasyi, dan tarekat Maulawi. Kedua tarekat ini banyak dianut oleh kalangan sipil dan militer. Tarekat Bektasyi meiliki pengaruh yang sangat dominan di kalangan Yeniseri sehingga mereka sering disebut sebagai tentara Bektasyi. Sementara tarekat Maulawi mendapat dukungan dari para penguasa dalam mengimbangi Yenissari Bektasyi.
Kajian mengenai ilmu-ilmu keagamaan Islam, seperti fiqh, ilmu kalam, tafsir, dan hadits boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa lebih cenderung untuk menegakkan satu faham (mazhab) keagamaan dan menekan mazhab lainnya. Sultan Abdul Hamid misalnya, begitu fanatik terhadap aliran Al-‘Asy’ariyah. Ia merasa perlu mempertahankan aliran tersebut dari kritikan aliran lain. Sultan memerintahkan kepada Syaikh Husein Al-Jisr Ath-Tharablusi menulis kitab Al-Husun Al-Hamidiyah (Benteng Pertahanan Abdul Hamid), yang menupas tentang masalah ilmu kalam, untuk melestarikan aliran yang dianutnya. Akibat keluesan di bidang ilmu keagamaan dan fanatik yang berlebihan maka ijtihad tidak berkembang. Ulama’ hanya menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan) dan hasyiyah (semacam catatan) terhadap karya-karya klasik.
Bagaimanapun, Kerajaan Turki Utsmani banyak berjasa, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam ke Eropa. ekspansi kerajaan ini untuk pertama kalinyalebih banyak ditujukan ke Eropa Timur yang belum masuk dalam wilayah kekuasaan dan agama Islam. Akan tetapi, karena dalam bidang peradaban dan kebudayaan keculai dalam hal yang berssifat fisik – perkembangannya jauh berada ddi bawah kemajuan politik, maka negeri-negeri yang sudah ditaklukkan ini akhirnya melepaskaan diri dari kekuasaan pusat, dan perjalanan dakwah belum berhasil dengan maksimal.
Hasil Peradaban
Meskipun Dinasti Utsmani berkuasa cukup lama (1299-1922), tidak berarti bahwa peradabannya maju pesat seperti pada masa Dinasti Abbasi. Hal itu dikarenakan politik ekspansinya yang tidak diikuti dengan pembinaan wilayah taklukannya, di samping seratus tahun setelah penaklukkan Constantinopel para sultannya lemah-lemah. Namun demikian, Dinasti Utsmani masih lebih baik pemerintahannya dan tingkat kemakmurannya dibanding dengan seluruh bagian Eropa yang dikuasai oleh Kaum Kristen. Demikian juga penduduk Kristen di bawah kekuasaan Dinasti Utsmani dapat dinikmati lebih banyak hasil bumi, kemerdekaan pribadi, dan hasil usaha lainnya, dibandingkan dengan teman-teman mereka yang berada di berbagai kerajaan Kristen.
Kelihatannnya, sultan-sultan Diasti Utsmani keras, tetapi pada kenyataannya mereka bersikap liberal dan pemurah terhadap penduduk yang beragama Kristen. Mereka melaksanakan administrasi pemerintahan yang adil di samping menggiatkan ekonomi dengan menganjurkan perdagangan di antara mereka.
Hal-hal tersebut di atas, mendorong lahirnya peradaban yang hasilnya sebagian masih bisa disaksikan hingga kini. Adapun puncak peradaban Dinasti Utsmani tidak dapat dilepaskan dari hasil penaklukkan Constantinopel. Sebagai ibu kota, di situlah berkembang peradaban Dinasti Utsmani yang merupakan perpaduan dari berbagai macam peradaban. Dinasti Utsmani banyak mengambil ajaran etika dan politik dari bangsa Persia. Dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan, Dinasti Utsmani dipengaruhi oleh Bizantium. Namun, jauh sebelum mereka masuk Islam bangsa Arab telah menuntun mereka dalam bidang agama, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan hukum. Oleh karena itu, huruf Arab dijadikan huruf resmi kerajaan.
Otoritas sultan-sultan Utsmani juga diadasarkan kepada sebuah kultur kosmopolitan yang terdiri dari unsur-unsur kultur Arab, Persia, Bizantium, dan unsur kultur bangsa Eropa. Muhammad II, seorang ahli kesenian yang liberal, mengembangkan syair-syair Persia dan juga seni lukis Eropa. Sastrawan Arba dan Persia, pelukis Italia, dan pujangga Yunani dan Serbia berdatangan di istananya. Meskipun demikian, beberapa rezim melepaskan diri dari unsur pengaruh Kristen dan pengaruh Eropa menuju sebuah pola kesenian yang lebih bercorak Islam dan Turki.
Dalam bidang arsitektur, masjid-masjid di sana membuktikan kemjuannya. Sensibilitas Dinasti Utsmani juga tercermin dalam seni arsitektur. Sejumlah masjid dan perguruan Utsmani mengekspresikan besarnya perhatian Utsmani terhadap ajaran Islam juga merancang beberapa feature, seperti kubah tunggal yang sangat besar, menara-menara yang tinggi menjulang, sejumlah bangunan tiang yang menyangga ruang tengah istana, menunjukkan pengaruh kuat model Aya Sophia, gereja Bizantium yang terbesar. Demikianlah masjid-masjid Ustmani mempergakan pola gereja-gereja Kristen timur yang terbesar, misalnya “Kubah Batu” di Yerusslem, dan mengekspresikan ketinggian Islam dalam persaingannya dengan Kristen. Hoja Sinan (1490-1578) adalah tokoh besar dalam bidang seni arsitektur ini.
Selain Aya Sophia, masjid-masjid penting lainnya adalah masjid Agung Sultan Muhammad al-Fatih, masjid Abu Ayyub al-Anshari (tempat pelantikan para Sultan Utsmani), masjid Bayazid dengan gaya Persia dan masjid Sulaiman al-Qanuni. Di samping masjid, para sultan juga mendirikan istana-istana dan villa-villa yang megah, sekolah, asrama, rumah sakit, panti asuhan, penginapan, pemandian umum, pusat-pusat tarekat dan sebagainya.
Dalam bidang pendidikan, Dinasti Utsmani mengantarkan pada pengorganisasian sebuah sistem pendidikan madrasah yang tersebar luas. Madrasah Ustmani pertama didirikan di Iznik pada tahun 1331, ketika itu sejumlah ulama’ didatangkan dari Iran dan Mesir untuk mengembangkan pengajaran muslim di beberapa teritorial yang baru. Beberapa Sultan masa belakangan mendirikan beberapa perguruan di Bursa, Edirne dan di Istambul. Pada akhir abad 15, beberapa perguruan ini disusun dalam sebuah hirarki yang menentukan jenjang karir bagi promosi ulama’-ulama’ besar. Perguruan yang dibangun oleh Sulaiman pada tahun 1550 dan 1559 benar-benar menjadi perguruan yang tinggi rangkingnya. Rangking di bawahnya adalah sejumlah perguruan yang didirikan oleh sultan-sultan terdahulu dan menempati rangking di bawah beberapa perguruan tersebut adalah sejumlah perguruan yang didirikan oleh kalangan pejabat negara dan ulama’ madrasah tidak hanya diorganisir secara rangking, tetapi juga dibeda-bedakan berdasarkan beberapa fungsi pendidikan mereka. Madrasah tingkat terendah megajarkan nahwu (tata bahasa Arab) dan sharaf (sintaksis), manthiq (logika), teologi, astronomi, geometri, dan retorika. Perguruan tingkatan tertinggi mengajarkan hukum dan teologi.
Para Sultan-sultan Dinasti Utsmani
No Nama Lahir/Meniggal Tahun Memerintah
1 Utsman I 1258 – 1323/1324 1300 - 1323/1324
2 Orkhan 1288 - 1359 1324 - 1360
3 Murad I 1326 - Juni 1389 1360 - 1389
4 Bayazid I 1360 – 8 Maret 1403 1389 - 1402
5 Muhammad I 1379/1389 – 26 Mei 1421 1402 - (1413-)
6 Murad II 1403/1404 – 3- Feb 1451 1421
7 Muhammad II 30 Mar 1432 – 3 Mei 1481 1421 – 1444
8 Murad II 1403/1404 – 3 Feb 1451 1444 – 1446
9 Muhammad II 30 Mar 1432 – 3 Mei 1481 1446 – 1451
10 Bayazid II 1447/1448 – 26 Mei 1512 1451 – 1481
11 Salim I 1466/1467 – 22 Sep. 1520 1481 – 1512
12 Sulaiman I 6 Nov. 1494 – 5 Sept. 1566 1512 – 1520
13 Salim II 30 Mei 1524 – 13 Des. 1574 1520 – 1566
14 Murad III 4 Juli 1546 – 14 Jan. 1595 1566 – 1574
15 Muhammad III 26 Mei 1566 – 22 Des. 1617 1574 – 1595
16 Ahmad I 18 Apr. 1590 – 22 Nov. 1617 1595 – 1603
17 Mustafa I 1592 – 20 Jan. 1639 1603 – 1617
18 Utsman II 3 Nov. 1604 – 20 Mei 1622 1617 – 1618
19 Mustafa I 1592 – 20 Jan. 1639 1618 – 1622
20 Murad IV 27 Juli 1612 – 9 Feb. 1640 1622 – 1623
21 Ibrahim 4 Nov. 1615 – 18 Agust. 1648 1623 – 1640
22 Muhammad IV 2 Jan. 1642 – 6 Jan. 1693 1640 – 1648
23 Sulaiman II 15 Apr. 1642 – 23 Jun 1691 1648 – 1687
24 Ahmad II 1 Agust. 1642 – 8 Feb. 1693 1687 – 1691
25 Mustafa II 5 Juni 1664 – 29 Des. 1703 1691 – 1695
26 Ahmad III 12 Des. 1673 – Juni 1937 1695 – 1703
27 Mahmud I 2 Agust. 1696 – 14 Des. 1754 1703 – 1730
28 Utsman III 2 Jan. 1699 – 30 Okt. 1575 1730 – 1754
29 Mustafa III 28 Jan. 1717 – 21 Jan. 1774 1754 – 1757
30 Abdul hamid I 20 Mar. 1725 – 7 Apr. 1789 1757 – 1774
31 Salim III 24 Des. 1761 – 29 juli 1808 1774 – 1789
32 Mustafa IV 8 Sep. 1774 – 16 Nov. 1808 1789 – 1807
33 Mamud II 20 Juli 1785 – 1 Juli 1839 1807 – 1808
34 Abdul Majid 23 Apr. 1823 – 24 Juni 1861 1808 – 1839
35 Abdul Aziz 9 Feb. 1830 – 4 Juni 1876 1839 – 1861
36 Murad V 21 Sep. 1840 – 29 Agust. 1904 1861 – 1876
37 Abdul hamid II 22 Sep. 1842 – 10 Feb. 1918 1876 – 1909
38 Muhammad V 3 Nov. 1844 – 2 Juli 1918 1909 – 1918
39 Muhammad VI 2 Feb. 1861 – 15 Mei 1962 1918 – 1922
¬¬
Para sejarawan yang terlupakan di masa Dinasti Utsman sebagai berikut:
Muhammad bin Abi Surur Al-Bakri Al-Siddiqi
Al-Ishaq Al-Manufi
Al-Jazri Al-Hambali
Al-Izzi
Muhammad Amin Al-Muhibbi
Al-Muradi.
III. Kesimpulan
1) Kemajuan yang dicapai Dinasti Utsmani itu dengan cara ekspansi (perluasan wilayah) dan masa itu Dinasti Ustmani dapat menaklukkan Konstantinopel, yang mana ekspansi itu dilakukan ekspansi kekuasaan islam secara besar-besaran, dan juga pemerintahan serta peran kemiliteran Ustmani sangat ketat.
2) Motivasi dan inspirasi Dinasti Utsmani dalam menaklukkan Konstantinopel karena keimanan kepada Allah dan disemangati oleh Hadits Nabi Muhammad SAW, dan juga karena Konstantinopel sebagai pusat budaya serta wilayahnya strategis.
3) Sedangkan faktor yang menjadikan Dinasti Utsmani berkembang dan mengalami peradaban itu ada 5 faktor:
- Potensional Humanisme orang-orang Turki
- Sifat orang-orang Turki yang selalu ingin maju secara dinamis
- Semangat jihad
- Letaknya setrategis (Istambul)
- Kondisi lingkungan kerja yang kacau, maka Utsmani menjadi mudah untuk mengalahkan lawan.
4) Sedangkan perkembangan dan peradabannya Dinasti Utsmani di berbagai macam bidang yaitu:
- Bidang pemerintahan dan militer
- Bidang ilmu pengetahuan
- Bidang kebudayaan dan,
- Bidang keagamaan.
IV. Penutup
Demikian makalah yang dapat saya susun. Jika ada kelebihan maka semata-mata petunjuk Allah, jika ada kekurangan maka itulah kebodohan yang belum saya hapus. Terimakasih.
Wasslamu’alaikum Wr.Wb.
V. Daftar Pustaka
Abdurrahman, Dudung. dkk. Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern. 2003. Yogyakarta. LESFI.
Drs. Samsul Munir Amin, M.A. Sejarah Peradaban Islam. 2009. Jakarta. Amzah.
Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta. 1996. Lkis.
Al-Munjid fi al-Laughah wa al-‘Alam, cetakan ke-26 (Beirut: Darul Masyriq, 1986).
Hamka, Sejarah Umat Islam III (Jakarta: Bulan Bintang, 1975).
Jossss kang
ReplyDelete